KISAH SEORANG SANTRI Ketika seorang gadis bocah meminta pada bapaknya bercerita tentang kisah Rasul, bapaknya bercerita tentang Dongeng Seribu Satu Malam. Si bocah merontak tangis, tapi segera tertidur setelah pantatnya kena cubit. Kini bocah duduk di bangku Sekolah Dasar, kembali meminta pada bapaknya membeli buku ajaran keimanan. Bapaknya malah marah, dibelinya buku cerita manusia laut, si bocah protes, tapi kembali diam setelah sapu lidi dipukulkan ke tubuhnya. Kini ia masuk Sekolah Lanjutan Pertama, kembali meminta kepada bapaknya ikut pengajian di surau, mata bapaknya melotot. Diseret lengan anaknya menjadi anggota tari dansa dansi. Si anak menolak, Si bapak geram, Si anak meringkul diam setelah kena terjang. Waktu Sekolah Lanjutan Atas si anak pulang memakai baju kurungBapak tidak lagi marah, tak lagi membentak, tak lagi geram. Dilepaskannya baju kurung itu digantinya dengan baju belahan dada, rok belahan paha. Ini busana abad kini, ini lipstik, merahkan mukamu. Instruksipun dimulai. Sianak meraba pipi, meraba bibir, kedua tangannya berganti menutup dada, menutup paha. Tangan itu tak cukup juga, tangan kanan menutup dada, tangan kiri menutup paha. Lalu bapaknya menyambret rambut dengan satu tarikan dibantingkannya tubuh anak itu dan tertelungkup di tanah. Hari ini kau bukan lagi putriku.. Tinggalkan tempat ini usir bapaknya lantang .... ! Si anak lari menghadap kiyai, Kiyai menghitung tasbih. Lalu ... Astagrfirullahhallazim, suaranya parau dan menuntun si anak menuju bilik santri. ======== Dikutip dari Antologi Puisi Religi Gusjandjara arni.